Kamis, 05 Desember 2019

ARTIKEL



GAWAI SEBAGAI ALAT PENGHUBUNG
“MENJAUHKAN YANG DEKAT, MENDEKATKAN YANG JAUH”
Oleh : Nur Faidatul Bariroh


Di era modern ini nama gawai sudah tidak asing lagi, bahkan sangat familiar didengar oleh kalangan masyarakat. Sebuah benda kecil yang dapat digunakan dengan mudah untuk untuk memenuhi kebutuhan kita. Sebagai masyarakat di era Revolusi Industri 4.0 tentunya mengikuti perkembangan zaman yang semakin canggih. Hampir semua masyarakat memiliki gawai. Baik yang muda maupun yang tua. Dalam penggunaannya pun juga tidak ada batasan waktu dan usia, siapapun dapat menggunakannya.
Sebagian dari kita mengklaim bahwa gawai adalah kebutuhan yang berhubungan dengan keperluan pekerjaan. Argumen ini mungkin benar, karena merupakan salah satu teknologi canggih yang praktis dan simple bisa dibawa kemana saja untuk memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Gawai dapat menjadi candu bagi pengguna yang tak bisa lepas darinya berupa gangguan komunikasi verbal dalam berkomunikasi secara langsung di dalam masyarakat. Orang yang mengalami gangguan komunikasi akan bersifat pasif dan cenderung penyendiri serta lebih memilih interaksi di dunia maya ketimbang berinteraksi di dunia nyata. Interaksi sosial di dunia nyata lebih penting ketimbang interaksi sosial dalam dunia maya. Karena di dunia nyata kita dapat bertatap muka secara langsung, dan dapat meminimalisir kesalahpahaman dalam menyampaikan maupun menerima pesan antara satu dengan yang lainnya.
Gawai sangat mempengaruhi perilaku sosial masyarakat, yaitu masyarakat menjadi semakin jarang melakukan interaksi sosial langsung antar pribadi. Masyarakat menjadi cenderung menutup diri dan memiliki ego yang tinggi. Sehingga ketika berinteraksi sosial akan cenderung emosional.
Adapun dampak positif dari gawai, salah satunya yakni mendekatkan yang jauh dan salah satu dari dampak negatifnya yakni, menjauhkan yang dekat. Seperti yang kita ketahui, saat berada dalam suatu perkumpulan entah dalam rapat, diskusi ataupun obrolan ringan dengan teman-teman, gawai sangatlah mengganggu dan menyebabkan terganggunya komunikasi. Jika seorang sibuk bermain gawai saat ada perkumpulan, ia akan fokus pada gawainya dan tidak fokus pada pembahasan topik perkumpulan tersebut. Reaksi ini terkesan mengabaikan dan tidak menghargai orang yang berbicara. Hal ini sangatlah mengganggu komunikasi. Karena tujuan  tidak dapat tersampaikan dengan baik.
Siapa pun itu dapat menggunakan gawai, karena dalam penggunaannya tidak ada batasan umur dan waktu. Banyak yang tidak menyadari bahwasanya gawai telah menghipnotis banyak orang, karena setiap orang yang asyik bermain gawai, akan lupa waktu dan tidak bisa memanajemen waktu dengan baik. Sehingga menghambat pekerjaan. Kewajiban pun terkadang ditunda-tunda bahkan sampai tidak dilaksanakan. Sungguh menyedihkan bila semua orang lengah dan lalai pada kewajiban yang seharusnya ia lakukan hanya karena benda kecil seperti itu.
Terkadang seseorang sangat aktif dalam dunia maya, namun belum tentu aktif di dunia nyata, bahkan kemungkinan pasif di dunia nyata. Sungguh ini tidaklah dibenarkan. Karena kita hidup dalam dunia nyata bukan dalam fatamorgana. Seharusnya yang kita lakukan adalah menengok sekitar kita apakah ia membutuhkan bantuan kita dan peduli terhadapnya dan kita seharusnya menjadi lebih peka terhadap lingkungan dan sekitar kita serta lebih menghargai satu sama lain.
Sebagai masyarakat yang baik dan cerdas, hendaklah kita berrsikap bijak dalam penggunaan gawai. Agar tidak lengah dalam menjalankan tugas dan kewajiban kita. Hendaklah kita menggunakan gawai seperlunya saja sesuai kebutuhan. Disaat berdiskusi maupun obrolan ringan dengan teman, hendaknya kita menutup gawai bahkan jika perlu mematikannya dan mulai mendengarkan serta memperhatikan apa yang teman kita ucapkan. Sehingga kita bisa fokus terhadap topik pembicaraan teman kita dan komunikasi akan berjalan dengan baik dan lancar, serta tidak ada kesalahpahaman satu sama lain. Selain itu juga dapat membuat orang jadi merasa dihargai jika kita mau mendengarkan dan memperhatikannya dengan baik.
Gawai yang terintegrasi dengan situs jejaring sosial dan pesan singkat memang telah membawa dunia lain dalam genggaman kita. Hanya dengan mengaksesnya, kita bisa bertemu dengan jutaan orang dari seluruh penjuru dunia, dan mendapatkan segala informasi dalam hitungan detik. Berikut adalah perbandingan perilaku masyarakat antara sebelum mewabahnya gawai dan sesudahnya:
Contoh gambar interaksi sosial di era Revolusi Industri 4.0
Orang-orang foto sebelum makan, kemudian di upload

Semua sibuk dengan gawai masing-masing




Sebelum ada gawai

Sesudah ada gawai
·         Orang-orang berdoa terlebih dulu sebelum makan.
·          Semua orang jalannya tegak serta memperhatikan lingkungan sekitar dan mulai menyapa orang sekitarnya.
·         Ketika di cafe, pesan makanan/ minuman terlebih dahulu, lalu mengobrol.
·         Saling menyapa, mengobrol walaupun tidak kenal ketika sedang mengantri di tempat umum.
·         Orang-orang saling bertukar cerita dan berdiskusi saat bersama.
·         Orang-orang foto sebelum makan, kemudian di upload.
·         Kebanyakan orang sekarang berjalan menunduk, karena berjalan sambil melihat gawai-nya.
·         Ketika di cafe, mencari colokan listrik & koneksi WiFi, kemudian pesan makanan/ minuman, dan lanjut bermain gawai.
·         Mengantri dengan bermain gawai.
·         Orang-orang sibuk dengan gawai masing-masing saat bersama (pertemuan).

Adapun adab/ etika dalam bermajlis yakni seperti yang dikatakan pepatah dalam untaian syairnya :
اِنْ أَنْتَ جَاَلَسْتَ الرِجَالَ ذَوِيْ النُهَى # فَاجْلِسْ اِلَيْهِمْ بِالْكَمَالِ مُؤَدَّبًا
وَاسْمَعْ حَدِيْثَهُمْ اِذَا هُمْ حَدَّثُوْا # وَاجْعَلْ حَدِيْثَكَ اِنْ نَطَقْتَ مُهَذَّبًا

Yang berarti : Jika kamu bergaul bersama orang-orang berilmu, maka bergaulah bersama mereka dengan kesempurnaan adab. Dan dengarlah perkataan mereka jika mereka berbicara, dan jadikanlah perkataanmu jika kamu berkata penuh sopan santun.
Dari untaian syair di atas dapat kita simpulkan bahwa adab dalam majlis (suatu perkumpulan) yang seharusnya kita perhatikan lebih dulu adalah bagaimana kita bersikap. Yakni sikap bermusyawarah dengan cara menghargai sekitar kita, mendengarkan apa yang  diucapkan dan memerhatikan pembicara, terutama jika kita berada dalam satu majlis dengan orang-orang berilmu. Hendaknya kita menjaga sopan santun kita. Percuma saja jika seseorang berpangkat tinggi dan berpengetahuan luas tetapi berakhlaq tercela/ tidak beradab santun. Karena الأَدَبُ فَوْقَ الْعِلْم yang berarti adab letaknya lebih tinggi dari ilmu. Ini adalah pedoman dasar kita dalam bermajlis dan bergaul, khususnya ketika kita sedang bersama dengan orang-orang berilmu. Maka hendaklah kita menjaga adab dan sopan santun kita.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hard Work, Smart Work, Positive Thinking

Rindu Yang Tak Berujung

Ada masanya kita harus melepaskan seseorang  Bukan karena tidak sayang lagi Tapi keadaanlah yang memaksa Memang sulit melepas dengan ikhlas ...