GAWAI SEBAGAI ALAT PENGHUBUNG
“MENJAUHKAN YANG DEKAT, MENDEKATKAN YANG JAUH”
Oleh : Nur Faidatul Bariroh
Di era modern ini nama gawai sudah tidak
asing lagi, bahkan sangat familiar didengar oleh kalangan masyarakat. Sebuah
benda kecil yang dapat digunakan dengan mudah untuk untuk memenuhi kebutuhan
kita. Sebagai masyarakat di era Revolusi Industri 4.0 tentunya mengikuti
perkembangan zaman yang semakin canggih. Hampir semua masyarakat memiliki gawai.
Baik yang muda maupun yang tua. Dalam penggunaannya pun juga tidak ada batasan
waktu dan usia, siapapun dapat menggunakannya.
Sebagian dari
kita mengklaim bahwa gawai adalah kebutuhan
yang berhubungan dengan keperluan pekerjaan.
Argumen ini mungkin benar, karena merupakan salah satu teknologi canggih yang
praktis dan simple bisa dibawa kemana saja untuk memudahkan masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya.
Gawai dapat
menjadi candu bagi pengguna yang tak bisa lepas darinya berupa gangguan
komunikasi verbal dalam berkomunikasi secara langsung di dalam masyarakat. Orang yang mengalami gangguan komunikasi akan bersifat pasif dan cenderung penyendiri serta lebih memilih interaksi di dunia maya
ketimbang berinteraksi di dunia nyata. Interaksi sosial di dunia nyata lebih penting ketimbang interaksi sosial dalam dunia maya. Karena di dunia nyata kita dapat bertatap muka secara langsung, dan dapat meminimalisir kesalahpahaman dalam
menyampaikan maupun menerima pesan antara satu dengan yang lainnya.
Gawai
sangat mempengaruhi perilaku sosial masyarakat, yaitu masyarakat menjadi
semakin jarang melakukan interaksi sosial langsung antar pribadi. Masyarakat
menjadi cenderung menutup diri dan memiliki ego yang tinggi. Sehingga ketika
berinteraksi sosial akan cenderung emosional.
Adapun dampak positif dari gawai, salah satunya yakni mendekatkan
yang jauh dan salah satu dari dampak negatifnya yakni, menjauhkan yang dekat.
Seperti yang kita ketahui, saat berada dalam suatu perkumpulan entah dalam
rapat, diskusi ataupun obrolan ringan dengan teman-teman, gawai sangatlah
mengganggu dan menyebabkan terganggunya komunikasi. Jika seorang sibuk bermain
gawai saat ada perkumpulan, ia akan fokus pada gawainya dan
tidak fokus pada pembahasan topik perkumpulan tersebut. Reaksi ini terkesan
mengabaikan dan tidak menghargai orang yang berbicara. Hal ini sangatlah
mengganggu komunikasi. Karena tujuan
tidak dapat tersampaikan dengan baik.
Siapa pun itu dapat menggunakan gawai,
karena dalam penggunaannya tidak ada
batasan umur dan waktu. Banyak yang tidak menyadari bahwasanya gawai telah
menghipnotis banyak orang, karena setiap orang yang asyik bermain gawai, akan
lupa waktu dan tidak bisa memanajemen waktu dengan baik. Sehingga menghambat
pekerjaan. Kewajiban pun terkadang ditunda-tunda bahkan sampai tidak
dilaksanakan. Sungguh menyedihkan bila semua orang lengah dan lalai pada
kewajiban yang seharusnya ia lakukan hanya karena benda kecil seperti itu.
Terkadang seseorang sangat aktif dalam dunia maya, namun belum
tentu aktif di dunia nyata, bahkan kemungkinan pasif di dunia nyata. Sungguh
ini tidaklah dibenarkan. Karena kita hidup dalam dunia nyata bukan dalam
fatamorgana. Seharusnya yang kita lakukan adalah menengok sekitar kita apakah
ia membutuhkan bantuan kita dan peduli terhadapnya dan kita seharusnya menjadi
lebih peka terhadap lingkungan dan sekitar kita serta lebih menghargai satu
sama lain.
Sebagai masyarakat yang baik dan
cerdas, hendaklah kita berrsikap bijak dalam penggunaan gawai.
Agar tidak lengah dalam menjalankan tugas dan kewajiban kita. Hendaklah kita menggunakan
gawai seperlunya saja sesuai kebutuhan. Disaat berdiskusi maupun obrolan ringan
dengan teman, hendaknya kita menutup gawai bahkan jika perlu mematikannya dan
mulai mendengarkan serta memperhatikan apa yang teman kita ucapkan. Sehingga
kita bisa fokus terhadap topik pembicaraan teman kita dan komunikasi akan
berjalan dengan baik dan lancar, serta tidak ada kesalahpahaman satu sama lain.
Selain itu juga dapat membuat orang jadi merasa dihargai jika kita mau mendengarkan
dan memperhatikannya dengan baik.
Gawai yang
terintegrasi dengan situs jejaring sosial dan pesan singkat memang telah
membawa dunia lain dalam genggaman kita. Hanya dengan mengaksesnya, kita bisa
bertemu dengan jutaan orang dari seluruh penjuru dunia, dan mendapatkan segala
informasi dalam hitungan detik. Berikut adalah perbandingan perilaku masyarakat
antara sebelum mewabahnya gawai dan sesudahnya:
Contoh
gambar interaksi sosial di era Revolusi
Industri 4.0
 |
| Orang-orang foto sebelum makan, kemudian di upload |
|
 |
| Semua sibuk dengan gawai masing-masing |
|
|
|
Sebelum ada gawai
|
Sesudah ada gawai
|
·
Orang-orang berdoa terlebih dulu
sebelum makan.
·
Semua orang jalannya tegak
serta memperhatikan lingkungan sekitar dan mulai menyapa orang sekitarnya.
·
Ketika di cafe, pesan makanan/ minuman
terlebih dahulu, lalu mengobrol.
·
Saling menyapa, mengobrol walaupun
tidak kenal ketika sedang mengantri di tempat umum.
·
Orang-orang saling bertukar cerita dan berdiskusi saat bersama.
|
·
Orang-orang foto sebelum makan, kemudian
di upload.
·
Kebanyakan orang sekarang berjalan
menunduk, karena berjalan sambil melihat gawai-nya.
·
Ketika di cafe, mencari colokan
listrik & koneksi WiFi, kemudian pesan makanan/ minuman, dan lanjut
bermain gawai.
·
Mengantri dengan bermain gawai.
·
Orang-orang sibuk dengan gawai
masing-masing saat bersama (pertemuan).
|
Adapun adab/ etika dalam bermajlis yakni seperti yang dikatakan pepatah dalam
untaian syairnya
:
اِنْ أَنْتَ جَاَلَسْتَ الرِجَالَ ذَوِيْ النُهَى # فَاجْلِسْ
اِلَيْهِمْ بِالْكَمَالِ مُؤَدَّبًا
وَاسْمَعْ حَدِيْثَهُمْ اِذَا هُمْ حَدَّثُوْا # وَاجْعَلْ حَدِيْثَكَ
اِنْ نَطَقْتَ مُهَذَّبًا
Yang berarti : Jika kamu bergaul
bersama orang-orang berilmu, maka bergaulah bersama mereka dengan
kesempurnaan adab. Dan dengarlah perkataan mereka jika mereka berbicara, dan jadikanlah perkataanmu jika kamu berkata penuh sopan santun.
Dari untaian syair di atas dapat kita simpulkan bahwa adab dalam majlis (suatu perkumpulan) yang seharusnya kita perhatikan lebih dulu adalah bagaimana kita bersikap. Yakni sikap bermusyawarah dengan cara menghargai sekitar kita, mendengarkan apa yang diucapkan dan memerhatikan pembicara, terutama jika kita berada dalam satu majlis dengan orang-orang berilmu. Hendaknya kita menjaga sopan santun kita. Percuma saja jika seseorang berpangkat tinggi dan berpengetahuan luas tetapi berakhlaq tercela/ tidak beradab santun. Karena الأَدَبُ فَوْقَ
الْعِلْم yang berarti adab letaknya lebih tinggi dari
ilmu. Ini adalah pedoman dasar kita dalam bermajlis dan bergaul, khususnya ketika
kita sedang bersama dengan orang-orang berilmu. Maka hendaklah kita menjaga adab dan sopan santun kita.