Selasa, 09 Agustus 2022

KANZA’S DREAM CAME TRUE 

Kanza adalah seorang gadis yang sopan, cerdas, optimis dan memiliki paras yang cantik. Setiap malam ia menuliskan impian-impian di dinding kamarnya, ambisinya sangat tinggi untuk menjadi seorang penulis hebat dan terkenal dengan perjalanannya mengelilingi dunia. Selepas pulang sekolah ia segera melepas seragamnya dan memakai kaos lalu bergegas pergi ke luar rumah membawa laptop. Rumah di atas pohon di tepi danau yang terletak tidak jauh dari rumahnya adalah tempat favoritnya dalam mencari inspirasi. Disana ia dapat menemukan ide-ide kreatif yang akan menjadi bahan tulisannya. Ibu dan Ayah Kanza sangat mendukung keinginan anak gadisnya ini untuk menjadi seorang penulis. Di sekolahannya ia dikenal sebagai anak berprestasi yang memiliki semangat tinggi, selain itu ia juga mendapat apresiasi dari kepala sekolah dan para dewan guru karena karya-karyanya. Setelah tiga tahun berlalu di SMA, Kanza berniatan untuk tidak langsung melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Ia memutuskan untuk les privat berbagai bahasa khususnya bahasa (inggris, arab, korea, jepang). Ia ingin menggapai mimpi-mimpinya yang selama ini terpendam dalam angannya. Ia ingin menjadikan mimpinya menjadi kenyataan. Salah satu yang menjadi panutannya adalah Ibnu Batutah, yaitu seorang muslim asal Maroko yang berkelana ke berbagai penjuru dunia baik negara Islam maupun bukan, perjalanan yang membahas berbagai peradaban-perdaban. Pengalaman yang beliau dapatkan selama berkelana diabadikan dalam bentuk buku, salah satu bukunya yang berjudul “The Travels Of Ibnu Batuta”. Mendengar cerita perjalanan Ibnu Batuta sangat menginspirasi Kanza unruk terus belajar menulis dan berbahasa asing dengan baik. Ia memiliki tekad yang kuat untuk terus belajar dan terus berusaha agar dapat melakukan perjalanan seperti Ibnu Batuta. Ia juga meminimalisir uang sakunya untuk ditabung. Beberapa karya sudah diciptakan olehnya seperti “Menuju Surga, Merpati Putih, Mimpi Rembulan, Catatan Hati Alisya, Tembung Katresnan, Kisah Asmara dibalik Gunung Bromo”. Dan masih banyak lagi karangan Kanza yang belum dijadikan buku. Hanya saja terkadang ia masih merasa minder Karena kekurangan-kekurangan yang ada dalam tulisannya. Suatu ketika Rania, salah satu sahabat Kanza memberi kabar bahagia bahwa saat ini perusahaan ayahnya sangat membutuhkan jurnalis yang akan mendampingi beliau kerja. Dengan harapan besar Rania menyampaikannya agar Kanza menerima pekerjaan tersebut. Tanpa pikir panjang dengan optimisnya Kanza menerima tawaran dari sahabatnya tersebut. Rania segera menyampaikan berita bahagia tersebut pada ayahnya, akhirnya mulai pekan depan Kanza sudah dapat bekerja di tempat ayah Rania bekerja. Setelah berjalan beberapa hari, ayah Rania merasa puas dengan totalitas kerja Kanza, karena ia rajin tekun dan ulet dalam bekrja dan tulisannya yang bagus. Akhirnya ayahnya mengutus Kanza untuk pergi ke beberapa negara menulis sejarah peradaban-peradaban di negara-negara yang akan ia lampaui. Kanza tercengang seketika seakan tak percaya bahwa ini adalah kenyataan bukan halusinasi samata. Dengan senang hati ia menerima tawaran tersebut, yang tanpa ia duga ayah Ranialah yang ternyata akan mewujudkan mimpinya sedari kecil. Satu bulan lagi ia akan berangkat dengan didampingi Rania. Ia menuliskan di diary nya bahwa salah satu mimpinya akan tercapai bulan depan. Ia mempersiapkannya dengan matang, Ayah Rania sengaja mengutus anaknya sendiri untuk menemaniku agar Rania memiliki wawasan yang luas dan bisa hidup mandiri tanpa orang tua selain itu juga mempermudah Rania jika membutuhkan pertolongan selaku ia sebaga sahabatnya sendiri. One mounth ago… Kanza dan Rania segera bergegas ke bandara, keberangkatan mereka pukul 09.00Am. Cina adalah tujuan pertama sebelum ke Roma, London, Korea Selatan dan juga Palestina. Sungguh menakjubkan, Kanza dan sahabatnya akan melancong di berbagai negara dalam waktu yang berkelanjutan tanpa jeda. Dan inilah kali pertama tulisan Kanza menceritakan sejaran dan peradaban-peradaban luar negeri. Namun Kanza merasa khawatir jika tulisannya tidak sesuai dengan keinginan ayah Rania. Namun Rania selalu meyakinkan Kanza bahwa ia bisa dengan karyanya yang indah itu. Halaman demi halaman mulai menggoreskan tinta penanya di atas kertas dan mulai menceritakan hari-hari mereka serta sejarah dan peradaban diberbagai negara tersebut. Kanza sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Rania yang sangat mengerti dirinya dan berkatnya, Ayah Rania tahu bakatku dan siapa yang menyangka bahwa mimpi-mimpi yang selama ini Kanza pendam akhirnya terwujud, inilah “Kanza’s Dream Came True”. Ia sangat bersyukur dikelilingi oleh orang baik. Hari-hari ia lalui dengan suka cita bersama sahabat baiknya Rania. Beberapa karyanya tentang perjalanan di Luar negeri sebagian sudah selesai, tinggal menulis di perjalanan selanjutnya yaitu di Korea Selatan dan Palestina. 

IDENTITAS PENULIS 
Nama Lengkap : Nur Faidatul Bariroh 
ID Instagram : Faida Bariroh_12 
No WhatsupApp : 085332650392 
E-mail : faida.bariroh98@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hard Work, Smart Work, Positive Thinking

Rindu Yang Tak Berujung

Ada masanya kita harus melepaskan seseorang  Bukan karena tidak sayang lagi Tapi keadaanlah yang memaksa Memang sulit melepas dengan ikhlas ...